Selasa, 18 Juni 2013

PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA MENGGUNAKAN METODE DISKUSI KELOMPOK KECIL DI SEKOLAH MENENGAH ATAS




PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA MENGGUNAKAN
METODE DISKUSI KELOMPOK KECIL DI SEKOLAH MENENGAH ATAS*)
Nur Isnaini Taufik, S.Pd., M.Pd
Pengawas SMA/SMK Dinas Pendidikan Kab. Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan

Abstrak
Tulisan ini berangkat dari keprihatinan bahwa prestasi peserta didik Indonesia dalam ajang International Mathematical Olympiad  (IMO) sampai dengan tahun 2012 masih memprihatinkan. Hal ini berdasarkan fakta bahwa selama 24 kali keikutsertaan dalam IMO, Indonesia belum pernah meraih medali emas, tetapi hanya memperoleh 7 medali perak, 27 medali perunggu, dan 28 honourable mention. Oleh karena itu, tujuan penulisan ini adalah:(1) memberi bekal kepada peserta didik agar sukses dalam belajar olimpiade matematika, dan (2) memberi cara alternatif  bagi guru pembina tentang pembinaan terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di SMA. Pada tulisan ini akan dibahas bagaimana caranya agar peserta didik sukses belajar olimpiade matematika dan bagaimana bentuk pembinaan guru pembina olimpade matematika. Dalam belajar olimpiade matematika, peserta didik akan menemui soal-soal yang sulit dan tidak rutin, maka guru pembina bisa menggunakan metode diskusi kelompok kecil agar peserta didik tidak berpikir sendirian dan dapat bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan olimpiade matematika. Dengan terjadinya diskusi antara pembina dan peserta didik akan saling memperkaya ilmu dan akan saling belajar. Penulis berpendapat bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka akan terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik pada olimpiade matematika di SMA.

Kata kunci:  tahapan pembinaan, diskusi kelompok kecil.

PENDAHULUAN
Dalam Peraturan Pemerintah RI No. 74 tahun 2009 tentang Guru, terdapat kompetensi pedagogik yang diantaranya kemampuan guru dalam pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Selanjutnya, dalam Permendiknas RI No. 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan, antara lain disebutkan  bahwa pembinaan kesiswaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstra kurikuler dan kokurikuler. Pembinaan kesiswaan dapat berupa pembinaan prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat, antar lain : a)  mengadakan lomba mata pelajaran/ program keahlian; b)  menyelenggarakan kegiatan ilmiah; c)  membentuk klub sains, seni dan olahraga.  Kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. (Depdiknas, 2006:13).  
Potensi peserta didik yang perlu dikembangkan oleh sekolah antara lain membina peserta didik pada kegiatan ekstra kurikuler, seperti klub sains olimpiade matematika. Olimpiade matematika jenjang SMA meliputi: a)  Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang matematika yang diselenggarakan mulai dari tingkat sekolah sampai dengan tingkat nasional, dan b) olimpiade matematika tingkat internasional: International Mathematical Olympiad (IMO), Asian Pacific Mathematics Olympiad (APMO) dan Southeast Asian Mathematics Olympiad (SEAMO).
Indonesia pertama kali mengikuti IMO pada tahun 1988 di Canberra, Australia. Prestasi peserta didik Indonesia dalam ajang IMO sampai dengan tahun 2012 masih memprihatinkan. Hal ini berdasarkan fakta bahwa selama 24 kali keikutsertaan dalam IMO, Indonesia belum pernah meraih medali emas, tetapi hanya memperoleh 7 medali perak, 27 medali perunggu, dan 28 honourable mention (HM) yaitu penghargaan memperoleh nilai penuh untuk paling sedikit satu soal. Peringkat Indonesia dalam ajang IMO juga paling tinggi hanya peringkat ke-29 (lihat tabel).

Tahun
Kota, Negara Penyelenggara
Penghargaan (Awards)

Peringkat
Emas
Perak
Perunggu
HM
2007
Hanoi, Vietnam
-
1
-
4
52 dari 93
2008
Madrid, Spanyol
-
1
2
2
36 dari 97
2009
Bremen, Jerman
-
-
4
1
43 dari 104
2010
Astana, Kazakhstan
-
1
4
1
30 dari 96
2011
Amsterdam, Belanda
-
2
4
0
29 dari 101
2012
Mar del Plata, Argentina
-
1
3
1
35 dari 100
Kelemahan peserta Indonesia adalah tidak mampu mengemukakan jawaban secara baik (sistematis, argumentatif, jelas), sekalipun mereka dapat menemukan jawabannya. (Susanto, 2011).
Sudah merupakan hal umum, bahwa suatu sekolah dianggap bermutu yang salah satu indikatornya adalah keberhasilan peserta didiknya menjuarai berbagai lomba (termasuk seleksi olimpiade matematika), baik di tingkat propinsi, nasional, bahkan internasional. Keberhasilan peserta didik dalam menjuarai seleksi olimpiade matematika tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan keras dan tekun dari guru pembina dalam melatihnya, utamanya dari peserta didik, baik belajar memecahkan masalah matematika di rumah maupun dalam latihan rutin di luar jam sekolah.
Hamid Muhammad mengatakan bahwa Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah salah satu bentuk wahana bagi peserta didik dan guru untuk mengaktualisasikan diri dalam mencintai dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wujud dari pencapaian prestasi belajar mengajar di kelas. OSN juga sekaligus adalah wahana yang memadai bagi para peserta didik dan guru untuk menumbuhkembangkan semangat berkompetisi dan tradisi berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional sebagai cerminan dari jaminan mutu proses pembangunan pendidikan yang selama ini dijalankan. Proses seleksi olimpiade yang dilakukan dari mulai tingkat sekolah, tingkat daerah hingga tingkat nasional terbukti mampu melahirkan para juara yang kompetitif (Kemdikbud, 2012:ii-iii).
Pada umumnya soal-soal OSN bidang Matematika SMA mengukur secara langsung tiga aspek berikut: pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning), dan komunikasi tertulis. Wajar bila soal-soal olimpiade matematika memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan soal-soal rutin dan soal-soal Ujian Nasional (UN).  Akibatnya, bukan hanya peserta didik yang mengalami kesulitan untuk menjawab soal olimpiade matematika, tetapi guru pembinanya juga kadang-kadang mengalami kesulitan.  Hal ini diperburuk dengan banyaknya sekolah yang belum mengadakan pembinaan olimpiade matematika secara rutin dan terprogram. Biasanya satu atau dua minggu menjelang seleksi tingkat kabupaten baru diadakan pembinaan ala kadarnya. Bahkan yang lebih parah lagi, sekolah tidak mengadakan pembinaan olimpiade matematika, sementara pesera didik disuruh belajar sendiri. Akibatnya, peluang menang bagi peserta didik dari sekolah tersebut sangat kecil.
Menurut Asari, soal olimpiade matematika bercirikan non rutin, openended, problematik/masalah, memuat keterkaitan, menuntut penalaran dan kemampuan berkomunikasi. Untuk bisa menjawab soal olimpiade matematika, menurut Muchlis peserta didik perlu mempunyai kematangan matematika berupa wawasan, kecermatan, kejelian, kecerdikan, cara berpikir dan pengalaman dengan matematika. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh  Olson, bahwa olimpiade matematika lebih menyerupai permainan daripada suatu tes/ujian. Suatu permainan yang dilakukan dengan pikiran. Oleh karena itu untuk menjadi seorang yang berhasil dalam olimpiade matematika diperlukan kreativitas, keberanian dan hati yang gembira ketika menjawab soal. (Asari, Muchlis, dan Olson dalam Wiworo, 2009).
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen dalam Depdiknas, 2008). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Pada metode diskusi bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya
serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, materi pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar. Terdapat bermacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain: a) diskusi kelas (diskusi kelompok), b) diskusi kelompok kecil, c) simposium, dan d) diskusi panel. Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang.
Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu : (1) dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide, (2) dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan, (3) dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal dan dapat menghargai pendapat orang lain. (Depdiknas, 2008:18-22).
Oleh karena metode diskusi mempunyai banyak kelebihan, maka dalam pembinaan olimpiade matematika dipilih menggunakan metode diskusi kelompok kecil. Selain itu, dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka peserta didik tidak berpikir sendirian dan dapat bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan olimpiade matematika. Wiworo (2004) juga menyatakan bahwa usahakan dalam pembinaan terjadi diskusi antara siswa dan pembina mengenai materi yang sedang dibahas. Dengan terjadinya diskusi sangat dimungkinkan antara pembina dan peserta pembinaan akan saling memperkaya ilmu dan akan saling belajar. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka akan terjadi peningkatan hasil belajar pada lomba matematika.
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka diambil rumusan masalah sebagai berikut:
(1) Bagaimana caranya agar peserta didik sukses belajar olimpiade matematika?, (2) Bagaimana bentuk pembinaan dari guru pembina terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di SMA?
Sesuai dengan rumusan masalah, tulisan ini memiliki tujuan sebagai berikut :
(1) memberi bekal kepada peserta didik agar sukses dalam belajar olimpiade matematika, dan (2) memberi cara alternatif  bagi guru pembina tentang pembinaan terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di SMA.
Tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat  terutama bagi: (1) peserta didik, agar sukses dalam belajar olimpiade matematika,  dan (2)  guru pembina, agar mengetahui cara alternatif tentang pembinaan terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di SMA.

PEMBAHASAN
Kiat Sukses Belajar Olimpiade Matematika
Karena soal-soal OSN bidang Matematika SMA mengukur tiga aspek: pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning), dan komunikasi tertulis, maka diperlukan strategi tertentu untuk menyelesaikannya. Menurut Polya (dalam Setya Budhi, 2004:2) ada 4 langkah yang perlu dilakukan dalam menyelesaikan soal, yaitu: (1)  memahami soal yang ada, (2) menyusun suatu strategi, (3) melakukan strategi yang telah dipilih, dan (4) melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan. Selanjutnya, kalau perlu menyusun strategi baru yang lebih baik atau menuliskan jawaban dengan lebih baik.
Oleh karena itu, agar peserta didik sukses dalam belajar olimpade matematika, maka diperlukan  kiat-kiat khusus dalam belajar olimpiade matematika.
1)   Memahami konsep
Memahami konsep artinya mengerti makna setiap kata dalam soal. Bahkan seringkali ditemui sebuah soal dalam pokok bahasan tertentu menuntut pemahaman konsep pada pokok bahasan lainnya.

2)   Memiliki ketekunan, motivasi yang kuat, dan hati gembira
Peserta didik harus memiliki ketekunan, motivasi yang kuat, dan hati yang gembira dalam mengerjakan soal olimpiade matematika. Walaupun menghadapi soal yang sulit, cara yang baik adalah lakukan apa saja yang bisa kita kerjakan dngan hati gembira dan jangan cepat menyerah.
3)   Memiliki keberanian untuk mencoba
Keberanian untuk mencoba dengan tanpa takut berbuat kesalahan merupakan langkah awal keberhasilan menyelesaikan soal olimpiade. Kesalahan dapat diminimalisasi dengan memahami setiap langkah yang dilakukan. Pada umumnya siswa tidak dapat menyelesaikan suatu soal disebabkan kesulitan dalam memulai mengerjakan soal yang
dihadapinya. Kesulitan ini dapat diatasi dengan mengamati dengan seksama apa yang
diberikan dan atau apa yang ditanyakan dalam soal.

4)   Berpikir secara kreatif
Dasar dari berpikir kreatif adalah menghubung-hubungkan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan.
(Kusnandi, 2012), Sembiring (2002:43-48)

5)  Aktif bertanya ke guru matematika atau guru pembina dan mau mencari materi olimpiade dari berbagai sumber belajar
Peserta didik harus aktif bertanya ke guru matematika atau guru pembina dan harus mau mencari materi olimpiade dari berbagai sumber belajar (buku-buku olimpiade matematika, buku-buku referensi matematika, makalah/artikel dan kumpulan soal olimpiade matematika yang bisa diunduh di internet).

6)   Mempunyai kemampuan untuk transfer of learning (transfer belajar)
Transfer of learning yaitu kemampuan untuk mengembangkan hal-hal yang pernah dipelajari untuk menghadapi situasi yang baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

7)   Dapat “berpikir dan bekerja secara matematis” (thinking and working
       mathematically)
       (Wiworo, 2009:10-11)

8)   Mau belajar secara sungguh-sungguh dan diiringi dengan do’a yang ikhlas
Peribahasa Arab yang terkenal sampai ke ujung dunia dan patut kita tiru berbunyi ”man jadda wajada” artinya siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil.  Oleh karena itu, peserta didik yang mau belajar secara sungguh-sungguh dengan diiringi dengan do’a yang ikhlas mudah-mudahan akan memetik keberhasilan menjadi juara olimpiade matematika.

Pembinaan Olimpiade Matematika di SMA
             Pada awal tahun pelajaran, Kepala Sekolah biasanya membuat Surat Keputusan (SK) Pembagian Tugas, yang diantaranya meliputi kegiatan ekstrakurikuler Olimpiade Matematika atau OSN bidang Matematika. Pembina olimpiade matematika sebaiknya guru dengan kualifikasi ijazah minimal S1 pendidikan matematika atau matematika murni dan berpengalaman mengajar matematika. minimal 5 tahun. Bila memungkinkan, sangatlah ideal bila pembina olimpiade matematika diambil dari guru atau dosen matematika yang berijazah minimal S2 pendidikan matematika atau matematika murni dan berpengalaman mengajar matematika minimal 3 tahun.
Ada tiga tahap kegiatan yang harus dibuat oleh pembina olimpiade matematika, yaitu: 1) membuat rencana kegiatan, 2) melaksanaan kegiatan, dan 3) membuat laporan kegiatan. Berikut ini contoh isi rencana kegiatan olimpiade matematika di SMA.
1)  Jenis kegiatan                     : Olimpiade Matematika
2)  Program kegiatan               : (buatlah program semesternya)
3) Waktu kegiatan                   : (misalnya,  setiap Sabtu, pukul 15.00 – 17.00)
4)  Sasaran                               : Peserta didik kelas X dan XI
5)  Rangkaian kegiatan            : (berisi rincian kegiatan pembinaan pada setiap pertemuan)
6)  Tempat kegiatan                 : Ruang Kelas X2
7)  Peralatan yang digunakan  : Buku-buku olimpiade matematika,  buku-buku referensi  
                                                   matematika,  makalah/artikel dan kumpulan soal olimpiade
                                                   matematika SMA
8)  Pelaksana kegiatan             : a. Pelaksana utama: Pembina Olimpiade Matematika
                                                  b. Pendamping       : Guru matematika yang ditunjuk
9)  Pengorganisasian kegiatan : Untuk seleksi olimpiade matematika tingkat sekolah
                                                   dapat dibentuk kepanitiaan tersendiri.                    
Sedangkan contoh isi pelaksanaan kegiatan olimpiade matematika di SMA dapat dibuat seperti di bawah ini.

1)   Rekrutmen peserta kegiatan
            Rekrutmen peserta kegiatan olimpiade matematika berdasarkan kebutuhan, potensi, bakat, dan atau minat peserta didik terhadap matematika. Rekrutmen peserta ditujukan untuk kelas X dan  dapat diadakan pada awal tahun  pelajaran baru (sekitar minggu kedua Juli). Misalnya, peserta didik yang mempunyai nilai rata-rata matematika di buku Laporan Pendidikan SMP  80 dan nilai matematika pada Ujian Nasional (UN)  SMP  8,0 dapat ikut seleksi masuk menjadi anggota klub. Sedangkan untuk peserta didik kelas XI semester 3 sudah menjadi anggota senior pada masing-masing klub. Untuk peserta didik kelas XII tidak diikutsertakan dalam seleksi ini, karena  mereka akan memusatkan diri dalam menghadapi UN.
2)   Penyiapan perlengkapan, materi pembinaan, dan pembuatan soal-soal latihan
            Guru pembina seharusnya memiliki buku-buku olimpiade matematika, buku-buku referensi matematika,  makalah/artikel dan soal-soal olimpiade matematika yang bisa diunduh  lewat internet. Buku-buku tersebut sangat berguna untuk  membuat materi  pembinaan dan pembuatan soal-soal matematika untuk tiap-tiap  latihan. Sebaiknya guru pembina membuat modul pembinaan sendiri, yang berisi: materi pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Di dalam LKS sebaiknya memuat: beberapa langkah penyelesaian soal yang harus diteruskan oleh peserta didik untuk menjawabnya, soal-soal latihan, dan soal-soal pekerjaan rumah (PR). Bentuk soal-soal latihan berupa soal uraian berjumlah 5 buah.  Jumlah soal-soal untuk tugas PR dapat berjumlah 3-5 buah soal uraian singkat. Sebagai pegangan guru, pembina harus membuat kunci penyelesaian dari soal-soal tersebut. Guru pembina juga harus membuat Daftar Hadir Peserta untuk setiap kali diadakan pembinaan.

3)   Penyiapan pelaksana kegiatan
Guru pembina membawa buku-buku olimpiade matematika, modul pembinaan
OSN bidang Matematika, dan Daftar Hadir Peserta. Buat kelompok diskusi masing-masing beranggotakan 3-5 orang. Guru pembina membuat peringkat nilai peserta berdasarkan hasil dari rekrutmen peserta. Pembagian kelompok didasarkan pada prinsip keadilan dan heterogin, baik dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin. Misalnya, setiap kelompok terdapat 2-3 anak pintar yang mempunyai nilai rata-rata di buku Laporan Pendidikan SMP  85 dan nilai matematika UN SMP  8,5, serta pembagian jenis kelamin diusahakan merata. Hal ini dilakukan agar setiap kelompok diskusi bisa ’hidup’ dan seimbang. Dalam melaksanakan pembinaan latihan, setiap pertemuan direncanakan memerlukan waktu 2 jam  penuh.

4)   Kegiatan awal (menyiapkan peserta untuk dapat melaksanakan kegiatan inti): 15
       menit
Pada kegiatan ini, guru pembina: (a) mengecek kehadiran peserta didik, (b) menanyakan hasil PR yang telah dibuat oleh peserta dan membahas soal-soal yang tidak bisa dijawab oleh peserta didik, (c)  memberikan motivasi dan apersepsi, dan (d)  membuat kelompok-kelompok diskusi kecil yang terdiri dari 3-5 orang.

5)   Kegiatan inti  (95 menit)
            Pada kegiatan inti:  
a)        Guru pembina memberikan LKS olimpiade matematika ke setiap kelompok.
b)        Pada LKS, guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Guru berkeliling memberikan bimbingan seperlunya.
c)        Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
d)       Guru pembina memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
e)        Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas.
f)         Menyeleksi berbagai pendapat sehingga didapat jawaban yang benar.
g)        Secara individual, peserta didik mengerjakan soal-soal latihan dan hasilnya dikumpulkan di meja guru.
h)        Bersama-sama dengan peserta didik menyelesaikan soal-soal latihan.

6)   Kegiatan akhir (10 menit)
Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil hendaklah dilakuan hal-hal sebagai berikut:
a)        Bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan.
b)        Mereview jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai  
       umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.
c)     Guru pembina memberikan soal-soal untuk tugas PR.

7)   Pelaksanaan seleksi olimpiade matematika di tingkat sekolah
Seleksi olimpiade matematika di tingkat sekolah dapat dilaksanakan pada minggu
pertama atau kedua Desember. Jenis soal pada seleksi ini berpedoman pada seleksi olimpiade matematika tingkat kabupaten yang berbentuk soal uraian, berjumlah 20 buah, dan waktu pengerjaan sebanyak 120 menit. Setelah guru pembina mengoreksi jawaban anak, kemudian dimasukkan ke daftar nilai.
Nilai akhir yang didapat peserta didik menggunakan rumus:            

= 
        Keterangan:
  = nilai akhir                                     RT =  nilai rata-rata tugas/PR
 RH = nilai rata-rata ulangan harian       US =  nilai ulangan seleksi tingkat sekolah

8)   Pelaksanaan seleksi olimpiade matematika di tingkat kabupaten/provinsi/nasional/
       internasional
Seleksi olimpiade matematika di tingkat kabupaten biasanya dilaksanakan pada minggu pertama April. Soal seleksi dibuat oleh panitia pusat. Jenis soal pada seleksi ini berbentuk soal uraian, berjumlah 20 buah, dan waktu pengerjaan sebanyak 120 menit. Materi soal jenis pemecahan masalah (problem solving) yang agak sederhana. Bagi peserta didik yang nilai akhir pada seleksi olimpiade matematika di tingkat sekolah termasuk dalam kelompok 3 besar terbaik, maka berhak untuk mengikuti seleksi olimpiade matematika tingkat kabupaten. Kriteria khusus peserta OSN bidang Matematika  tingkat kabupaten tahun 2013 adalah: a) siswa SMP/MTs kelas IX, SMA/MA kelas X dan XI, b) memiliki nilai matematika tidak kurang dari 7,5 (skala 10) atau  75 (skala 100), dan c) belum pernah mengikuti pembinaan nasional tahap ke-3. (Kemdikbud, 2013:11). Dalam mengikuti seleksi ini, peserta diharapkan tetap relaks dan dengan hati yang gembira.
Seleksi tingkat provinsi dilakukan melalui tes tertulis sebanyak 20 soal isian singkat dan 5 soal uraian. Materi soal berupa masalah-masalah (problem solving) tingkat
menengah. Soal seleksi tingkat provinsi dibuat oleh panitia pusat dan dibuat sama untuk seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan untuk menjaring calon peserta OSN menggunakan sistem passing grade, yaitu juara I untuk setiap provinsi (berapapun nilainya) akan langsung diundang mengikuti OSN. Sedangkan peringkat II dan seterusnya untuk masing-masing provinsi, nilainya akan diranking secara nasional dan akan diambil sekitar 50 siswa terbaik dari hasil ranking nasional tersebut.
Seleksi OSN bidang studi matematika SMA tingkat nasional diadakan setiap bulan September. Tes dilaksanakan dalam dua hari dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
a. Hari I, setiap peserta menyelesaikan 4 soal uraian dalam waktu 180 menit
b. Hari II, setiap peserta menyelesaikan 4 soal uraian dalam waktu 180 menit
Materi soal untuk OSN berupa problem solving tingkat lanjut. Nilai maksimal untuk
setiap soal adalah 7 (disesuaikan dengan sistem penilaian di IMO). (Wiworo, 2009:8-9).
9)    Evaluasi
Evaluasi terhadap hasil dan proses penyelenggaraan tahap-tahap pelaksanaan kegiatan. Dalam evaluasi tersebut dihasilkan kualitas pencapaian peserta didik dalam kegiatan olimpiade matematika.
(Depdiknas, 2006:49-50), (Taufik, 2002:40-41).
Sebagai pertanggung jawaban terhadap sekolah, guru pembina wajib membuat laporan kegiatan olimpiade matematika yang isinya meliputi: 1) jenis kegiatan,  2) waktu kegiatan, 3)  sasaran kegiatan, 4) tahap- tahap kegiatan, 5) hasil evaluasi: termasuk di dalamnya evaluasi hasil dan proses kegiatan, 6) faktor penunjang dan pendukung, dan 7) rekomendasi.  Laporan kegiatan ini disampaikan kepada kepala sekolah dan pemangku kepentingan lainnya (misalnya: pengawas pembina atau ketua komite sekolah).

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Peserta didik agar sukses dalam belajar olimpade matematika, maka diperlukan  kiat-kiat khusus dalam belajar olimpiade matematika, yaitu: (1) memahami konsep, (2)  memiliki ketekunan, motivasi yang kuat, dan hati gembira, (3) memiliki keberanian untuk mencoba, (4)  berpikir secara kreatif, (5)  aktif bertanya ke guru matematika  atau guru pembina dan mau mencari materi olimpiade dari berbagai sumber belajar, (6)   mempunyai kemampuan untuk transfer of learning (transfer belajar), (7) dapat berpikir dan bekerja secara matematis  (thinking and working mathematically), dan (8) mau belajar secara sungguh-sunguh dan diiringi dengan do’a yang ikhlas.
Bagi pembina olimpiade matematika, ada tiga tahap kegiatan yang harus dibuat, yaitu: (1) membuat rencana kegiatan, (2) melaksanaan kegiatan, dan (3) membuat laporan kegiatan. Dalam belajar olimpiade matematika, peserta didik akan menemui soal-soal yang sulit dan tidak rutin, maka guru pembina bisa menggunakan metode diskusi kelompok kecil agar peserta didik tidak berpikir sendirian dan dapat bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan olimpiade matematika. Dengan terjadinya diskusi antara pembina dan peserta didik akan saling memperkaya ilmu dan akan saling belajar. Penulis berpendapat bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka akan terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik pada olimpiade matematika di SMA.



Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis dapat menyarankan hal-hal berikut.
1)        Bagi peserta didik, diharapkan agar sukses dalam belajar olimpade matematika, maka diperlukan  kiat-kiat khusus dalam belajar olimpiade matematika di atas.
2)        Bagi guru pembina olimpiade matematika, diharapkan melaksanakan tiga tahap kegiatan, yaitu: (1) membuat rencana kegiatan, (2) melaksanaan kegiatan, dan (3) membuat laporan kegiatan.  Di samping itu, guru pembina diharapkan dapat menggunakan metode diskusi kelompok kecil sebagai metode alternatif dalam pembinaan olimpiade matematika di SMA.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. (2006). Model Pengembangan Diri SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB – SMA/MA/SMALB/SMK. Jakarta: Puskur Balitbang.
        . (2008). Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta: Dit. Tendik Ditjen PMPTK.
http://imo-official.org./year_country_r.aspx?year= 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 (online)
Kemdikbud. (2012). Panduan Umum Olimpiade Sains Nasional XI SD, SMP, SMA, PKLK Dikdas, dan PKLK Dikmen, dan Guru. Jakarta: Ditjen Dikmen.
         . (2013). Panduan Pelaksanaan Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/ Kota dan Provinsi tahun 2013. Jakarta: Dit. Pembinaan SMA Ditjen Dikmen.
Kusnandi. (2012). Pembinaan Olimpiade Matematika untuk Guru SMA/MA di Kabupaten Sungai Liat Provinsi Bangka Belitung (online).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 39 Tahun 2008 tentang  Pembinaan Kesiswaan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 74 tahun 2009 tentang Guru.
Sembiring, Suah. (2002). Olimpiade Matematika untuk SMU. Bandung: Yrama Widya.
Setya Budhi, Wono. (2004). Langkah Awal Menuju ke Olimpiade Matematika. Jakarta: Ricardo.
Susanto, Hery. Sekilas tentang Olimpiade Matematika. Tersedia dalam http://id.shvoong. com/exact- sciences/mathematics/2139962-sekilas-info-olimpiade-matematika-internasional/,  diakses 18 April 2013.
Taufik, Nur Isnaini. 2002. Membina Lomba Cepat Tepat di Sekolah. Majalah Suara Guru, 6 (LII), 40-41.
Wiworo. (2004). Metode Pembinaan untuk Menghadapi Olimpiade Matematika SMP. Buletin LIMAS. Yogyakarta: PPPPTK Matematika.
          .  (2009). OSN Matematika SMA. Yogyakarta: PPPPTK Matematika Depdiknas.    
          .  (2013). Seri Menjadi Juara Olimpiade Matematika (I). Tersedia dalam 
             http://olimpiade.p4tkmatematika.org/?p=43 (online), diakses 27 Februari
             2013.


*)  Makalah disajikan dalam The First South East Asia Design/Development Research Conference di PPs  
      UNSRI Palembang, Selasa 23 April 2013.

=============================================================

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar