PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA MENGGUNAKAN
METODE DISKUSI KELOMPOK KECIL DI SEKOLAH MENENGAH ATAS*)
Nur Isnaini Taufik, S.Pd., M.Pd
Pengawas SMA/SMK Dinas Pendidikan Kab. Ogan
Komering Ulu Sumatera Selatan
E-mail: ni.taufik62@yahoo.com
Abstrak
Tulisan ini berangkat dari keprihatinan bahwa prestasi peserta didik Indonesia dalam ajang
International Mathematical Olympiad (IMO) sampai dengan tahun 2012 masih
memprihatinkan. Hal ini berdasarkan fakta bahwa selama 24 kali keikutsertaan
dalam IMO, Indonesia belum pernah meraih medali emas, tetapi hanya memperoleh 7
medali perak, 27 medali perunggu, dan 28 honourable mention. Oleh karena itu, tujuan
penulisan ini adalah:(1) memberi bekal kepada peserta didik agar sukses dalam
belajar olimpiade matematika, dan (2) memberi cara alternatif bagi guru pembina tentang pembinaan terhadap
olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di SMA. Pada
tulisan ini akan dibahas bagaimana caranya agar peserta didik sukses belajar
olimpiade matematika dan bagaimana bentuk pembinaan guru pembina olimpade
matematika. Dalam belajar olimpiade matematika, peserta didik akan menemui
soal-soal yang sulit dan tidak rutin, maka guru pembina bisa menggunakan metode
diskusi kelompok kecil agar peserta didik tidak berpikir sendirian dan dapat
bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan olimpiade matematika. Dengan
terjadinya diskusi antara pembina dan peserta didik akan saling memperkaya ilmu
dan akan saling belajar. Penulis berpendapat bahwa dengan menggunakan metode
diskusi kelompok kecil maka akan terjadi peningkatan hasil belajar peserta
didik pada olimpiade matematika di SMA.
Kata
kunci: tahapan
pembinaan, diskusi kelompok kecil.
PENDAHULUAN
Dalam Peraturan Pemerintah RI No.
74 tahun 2009 tentang Guru, terdapat kompetensi pedagogik yang diantaranya
kemampuan guru dalam pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya. Selanjutnya, dalam Permendiknas RI No. 39
tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan, antara lain disebutkan bahwa pembinaan kesiswaan dilaksanakan
melalui kegiatan ekstra kurikuler dan kokurikuler. Pembinaan kesiswaan dapat
berupa pembinaan prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan
minat, antar lain : a) mengadakan lomba
mata pelajaran/ program keahlian; b)
menyelenggarakan kegiatan ilmiah; c)
membentuk klub sains, seni dan olahraga.
Kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang
secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang
berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. (Depdiknas, 2006:13).
Potensi peserta didik yang
perlu dikembangkan oleh sekolah antara lain membina peserta didik pada kegiatan
ekstra kurikuler, seperti klub sains olimpiade matematika. Olimpiade matematika jenjang SMA meliputi:
a) Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang
matematika yang diselenggarakan mulai dari tingkat sekolah sampai dengan
tingkat nasional, dan b) olimpiade matematika tingkat internasional: International Mathematical Olympiad (IMO), Asian Pacific Mathematics Olympiad (APMO) dan Southeast Asian
Mathematics Olympiad (SEAMO).
Indonesia pertama kali
mengikuti IMO pada tahun 1988 di Canberra, Australia. Prestasi peserta didik
Indonesia dalam ajang IMO sampai dengan tahun 2012 masih memprihatinkan. Hal
ini berdasarkan fakta bahwa selama 24 kali keikutsertaan dalam IMO, Indonesia belum
pernah meraih medali emas, tetapi hanya memperoleh 7 medali perak, 27 medali
perunggu, dan 28 honourable mention
(HM) yaitu penghargaan memperoleh nilai penuh untuk paling sedikit satu
soal. Peringkat Indonesia dalam
ajang IMO juga paling tinggi hanya peringkat ke-29 (lihat tabel).
|
Tahun
|
Kota, Negara
Penyelenggara
|
Penghargaan
(Awards)
|
Peringkat
|
|||
|
Emas
|
Perak
|
Perunggu
|
HM
|
|||
|
2007
|
Hanoi, Vietnam
|
-
|
1
|
-
|
4
|
52
dari 93
|
|
2008
|
Madrid,
Spanyol
|
-
|
1
|
2
|
2
|
36
dari 97
|
|
2009
|
Bremen, Jerman
|
-
|
-
|
4
|
1
|
43
dari 104
|
|
2010
|
Astana,
Kazakhstan
|
-
|
1
|
4
|
1
|
30
dari 96
|
|
2011
|
Amsterdam,
Belanda
|
-
|
2
|
4
|
0
|
29
dari 101
|
|
2012
|
Mar del Plata, Argentina
|
-
|
1
|
3
|
1
|
35
dari 100
|
Kelemahan peserta Indonesia adalah tidak mampu mengemukakan jawaban
secara baik (sistematis, argumentatif, jelas), sekalipun mereka dapat menemukan
jawabannya. (Susanto, 2011).
Sudah merupakan hal umum,
bahwa suatu sekolah dianggap bermutu yang salah satu indikatornya adalah
keberhasilan peserta didiknya menjuarai berbagai lomba (termasuk seleksi
olimpiade matematika), baik di tingkat propinsi, nasional, bahkan
internasional. Keberhasilan peserta didik dalam menjuarai seleksi olimpiade
matematika tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan
keras dan tekun dari guru pembina dalam melatihnya, utamanya dari peserta
didik, baik belajar memecahkan masalah matematika di rumah maupun dalam latihan
rutin di luar jam sekolah.
Hamid Muhammad mengatakan
bahwa Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah salah satu bentuk wahana bagi
peserta didik dan guru untuk mengaktualisasikan diri dalam mencintai dan
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wujud dari pencapaian prestasi
belajar mengajar di kelas. OSN juga sekaligus adalah wahana yang memadai bagi
para peserta didik dan guru untuk menumbuhkembangkan semangat berkompetisi dan tradisi
berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional sebagai cerminan dari
jaminan mutu proses pembangunan pendidikan yang selama ini dijalankan. Proses seleksi
olimpiade yang dilakukan dari mulai tingkat sekolah, tingkat daerah hingga
tingkat nasional terbukti mampu melahirkan para juara yang kompetitif
(Kemdikbud, 2012:ii-iii).
Pada umumnya soal-soal OSN bidang Matematika SMA mengukur secara
langsung tiga aspek berikut: pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning),
dan komunikasi tertulis. Wajar bila soal-soal olimpiade matematika memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan soal-soal rutin dan soal-soal Ujian Nasional (UN). Akibatnya, bukan hanya peserta didik yang mengalami
kesulitan untuk menjawab soal olimpiade matematika, tetapi guru pembinanya juga
kadang-kadang mengalami kesulitan. Hal
ini diperburuk dengan banyaknya
sekolah yang belum mengadakan pembinaan olimpiade matematika secara rutin dan
terprogram. Biasanya satu atau dua minggu menjelang seleksi tingkat kabupaten
baru diadakan pembinaan ala kadarnya. Bahkan yang lebih parah lagi, sekolah
tidak mengadakan pembinaan olimpiade matematika, sementara pesera didik disuruh
belajar sendiri. Akibatnya, peluang menang bagi peserta didik dari sekolah
tersebut sangat kecil.
Menurut Asari, soal olimpiade
matematika bercirikan non rutin, open‐ended, problematik/masalah, memuat keterkaitan,
menuntut penalaran dan kemampuan berkomunikasi. Untuk bisa menjawab soal
olimpiade matematika, menurut Muchlis peserta didik perlu mempunyai kematangan
matematika berupa wawasan, kecermatan, kejelian, kecerdikan, cara berpikir dan
pengalaman dengan matematika. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Olson, bahwa olimpiade matematika lebih
menyerupai permainan daripada suatu tes/ujian. Suatu permainan yang dilakukan
dengan pikiran. Oleh karena itu untuk menjadi seorang yang berhasil dalam
olimpiade matematika diperlukan kreativitas, keberanian dan hati yang gembira
ketika menjawab soal. (Asari, Muchlis, dan Olson dalam Wiworo, 2009).
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada
suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu
permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa,
serta untuk membuat suatu keputusan (Killen dalam Depdiknas, 2008). Karena itu,
diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih
bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Pada metode diskusi bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir
sebelumnya
serta tidak
disajikan secara langsung kepada siswa, materi pembelajaran ditemukan dan
diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya
sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar. Terdapat
bermacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran,
antara lain: a) diskusi kelas (diskusi kelompok), b) diskusi kelompok kecil, c)
simposium, dan d) diskusi panel. Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan
membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5
orang.
Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan
belajar mengajar, yaitu : (1) dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif,
khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide, (2) dapat melatih untuk
membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan, (3)
dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara
verbal dan dapat menghargai pendapat orang lain. (Depdiknas, 2008:18-22).
Oleh karena metode diskusi mempunyai banyak kelebihan, maka dalam
pembinaan olimpiade matematika dipilih menggunakan metode diskusi kelompok
kecil. Selain itu, dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka
peserta didik tidak berpikir sendirian dan dapat bertukar pikiran dalam
mengatasi setiap permasalahan olimpiade matematika. Wiworo (2004) juga menyatakan
bahwa usahakan dalam pembinaan terjadi diskusi antara siswa dan pembina
mengenai materi yang sedang dibahas. Dengan terjadinya diskusi sangat
dimungkinkan antara pembina dan peserta pembinaan akan saling memperkaya ilmu
dan akan saling belajar. Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa dengan
menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka akan terjadi peningkatan hasil
belajar pada lomba matematika.
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka diambil rumusan masalah sebagai berikut:
(1) Bagaimana caranya
agar peserta didik sukses belajar olimpiade matematika?, (2) Bagaimana bentuk pembinaan
dari guru pembina terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di
SMA?
Sesuai dengan rumusan masalah,
tulisan ini memiliki tujuan
sebagai berikut :
(1) memberi
bekal kepada peserta didik agar sukses dalam belajar olimpiade matematika, dan
(2) memberi cara alternatif bagi guru pembina
tentang pembinaan terhadap olimpade matematika dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil di
SMA.
Tulisan ini diharapkan dapat
bermanfaat terutama bagi: (1) peserta
didik, agar sukses dalam belajar olimpiade matematika, dan (2) guru pembina, agar
mengetahui cara alternatif tentang pembinaan terhadap olimpade matematika
dengan menggunakan metode diskusi
kelompok kecil di SMA.
PEMBAHASAN
Kiat Sukses Belajar Olimpiade Matematika
Karena soal-soal OSN bidang Matematika SMA mengukur tiga aspek: pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning), dan komunikasi tertulis,
maka diperlukan strategi tertentu untuk menyelesaikannya. Menurut Polya (dalam
Setya Budhi, 2004:2) ada 4 langkah yang perlu dilakukan dalam menyelesaikan
soal, yaitu: (1) memahami soal yang ada,
(2) menyusun suatu strategi, (3) melakukan strategi yang telah dipilih, dan (4)
melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan. Selanjutnya, kalau perlu
menyusun strategi baru yang lebih baik atau menuliskan jawaban dengan lebih
baik.
Oleh karena itu, agar peserta didik sukses dalam
belajar olimpade matematika, maka diperlukan kiat-kiat khusus dalam belajar olimpiade matematika.
1) Memahami
konsep
Memahami konsep artinya
mengerti makna setiap kata dalam soal. Bahkan seringkali ditemui sebuah soal
dalam pokok bahasan tertentu menuntut pemahaman konsep pada pokok bahasan lainnya.
2) Memiliki
ketekunan, motivasi yang kuat, dan hati gembira
Peserta didik harus
memiliki ketekunan, motivasi yang kuat, dan hati yang gembira dalam mengerjakan
soal olimpiade matematika. Walaupun menghadapi soal yang sulit, cara yang baik
adalah lakukan apa saja yang bisa kita kerjakan dngan hati gembira dan jangan
cepat menyerah.
3) Memiliki
keberanian untuk mencoba
Keberanian untuk mencoba
dengan tanpa takut berbuat kesalahan merupakan langkah awal keberhasilan
menyelesaikan soal olimpiade. Kesalahan dapat diminimalisasi dengan memahami
setiap langkah yang dilakukan. Pada umumnya siswa tidak dapat menyelesaikan
suatu soal disebabkan kesulitan dalam memulai mengerjakan soal yang
dihadapinya. Kesulitan ini dapat diatasi dengan
mengamati dengan seksama apa yang
diberikan dan atau apa yang ditanyakan dalam soal.
4) Berpikir secara kreatif
Dasar dari berpikir kreatif adalah menghubung-hubungkan antara yang
diketahui dengan yang ditanyakan.
(Kusnandi, 2012), Sembiring (2002:43-48)
5) Aktif bertanya ke guru matematika atau guru pembina
dan mau mencari materi olimpiade dari berbagai sumber belajar
Peserta didik harus aktif
bertanya ke guru matematika atau guru pembina dan harus mau mencari materi olimpiade dari berbagai
sumber belajar (buku-buku
olimpiade matematika, buku-buku referensi matematika, makalah/artikel dan kumpulan
soal olimpiade matematika yang bisa
diunduh di internet).
6)
Mempunyai kemampuan untuk transfer of learning (transfer belajar)
Transfer of learning
yaitu kemampuan untuk mengembangkan hal-hal yang pernah dipelajari untuk
menghadapi situasi yang baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
7)
Dapat “berpikir dan bekerja secara matematis” (thinking and working
mathematically)
(Wiworo, 2009:10-11)
8)
Mau belajar secara sungguh-sungguh dan diiringi dengan do’a yang ikhlas
Peribahasa Arab yang terkenal
sampai ke ujung dunia dan patut kita tiru berbunyi ”man jadda wajada” artinya siapa bersungguh-sungguh dia akan
berhasil. Oleh karena itu, peserta didik
yang mau belajar secara sungguh-sungguh dengan diiringi dengan do’a yang ikhlas
mudah-mudahan akan memetik keberhasilan menjadi juara olimpiade
matematika.
Pembinaan Olimpiade Matematika di SMA
Pada awal tahun pelajaran, Kepala
Sekolah biasanya membuat Surat Keputusan (SK) Pembagian Tugas, yang diantaranya
meliputi kegiatan ekstrakurikuler Olimpiade Matematika atau OSN bidang
Matematika. Pembina olimpiade matematika sebaiknya guru dengan kualifikasi
ijazah minimal S1 pendidikan matematika atau matematika murni dan berpengalaman
mengajar matematika. minimal 5 tahun. Bila memungkinkan, sangatlah ideal bila
pembina olimpiade matematika diambil dari guru atau dosen matematika yang
berijazah minimal S2 pendidikan matematika atau matematika murni dan
berpengalaman mengajar matematika minimal 3 tahun.
Ada tiga tahap kegiatan yang harus dibuat oleh pembina olimpiade matematika,
yaitu: 1) membuat rencana kegiatan, 2) melaksanaan kegiatan, dan 3) membuat
laporan kegiatan. Berikut ini contoh isi rencana kegiatan olimpiade matematika
di SMA.
1) Jenis kegiatan :
Olimpiade Matematika
2) Program kegiatan : (buatlah program semesternya)
3)
Waktu kegiatan : (misalnya,
setiap Sabtu, pukul 15.00 – 17.00)
4) Sasaran :
Peserta didik kelas X dan XI
5) Rangkaian kegiatan : (berisi rincian kegiatan pembinaan pada setiap
pertemuan)
6) Tempat kegiatan : Ruang Kelas X2
7) Peralatan yang digunakan : Buku-buku olimpiade matematika, buku-buku referensi
matematika, makalah/artikel dan kumpulan soal olimpiade
matematika SMA
8) Pelaksana kegiatan : a. Pelaksana utama: Pembina Olimpiade Matematika
b. Pendamping : Guru
matematika yang ditunjuk
9) Pengorganisasian kegiatan : Untuk seleksi olimpiade matematika tingkat
sekolah
dapat dibentuk kepanitiaan tersendiri.
Sedangkan contoh isi pelaksanaan kegiatan olimpiade matematika di SMA dapat
dibuat seperti di bawah ini.
1)
Rekrutmen peserta kegiatan
Rekrutmen peserta kegiatan olimpiade
matematika berdasarkan kebutuhan, potensi, bakat, dan atau minat peserta didik terhadap
matematika. Rekrutmen peserta ditujukan untuk kelas X dan dapat diadakan pada awal tahun pelajaran baru (sekitar minggu kedua Juli). Misalnya,
peserta didik yang mempunyai nilai rata-rata matematika di buku Laporan
Pendidikan SMP
80 dan nilai
matematika pada Ujian Nasional (UN) SMP
8,0 dapat ikut seleksi
masuk menjadi anggota klub. Sedangkan untuk peserta didik kelas XI semester 3
sudah menjadi anggota senior pada masing-masing klub. Untuk peserta didik kelas
XII tidak diikutsertakan dalam seleksi ini, karena mereka akan memusatkan diri dalam menghadapi
UN.
2) Penyiapan perlengkapan, materi pembinaan, dan pembuatan soal-soal
latihan
Guru pembina seharusnya memiliki buku-buku olimpiade
matematika, buku-buku referensi matematika,
makalah/artikel dan soal-soal olimpiade matematika yang bisa diunduh lewat internet. Buku-buku tersebut sangat berguna untuk
membuat materi pembinaan dan pembuatan soal-soal matematika
untuk tiap-tiap latihan. Sebaiknya guru
pembina membuat modul pembinaan sendiri, yang berisi: materi pelajaran dan
Lembar Kerja Siswa (LKS). Di dalam LKS sebaiknya memuat: beberapa langkah
penyelesaian soal yang harus diteruskan oleh peserta didik untuk menjawabnya, soal-soal
latihan, dan soal-soal pekerjaan rumah (PR). Bentuk soal-soal latihan berupa
soal uraian berjumlah 5 buah. Jumlah
soal-soal untuk tugas PR dapat berjumlah 3-5 buah soal uraian singkat. Sebagai
pegangan guru, pembina harus membuat kunci penyelesaian dari soal-soal
tersebut. Guru pembina
juga harus membuat Daftar Hadir Peserta untuk setiap kali diadakan pembinaan.
3) Penyiapan pelaksana kegiatan
Guru pembina membawa buku-buku
olimpiade matematika, modul
pembinaan
OSN bidang
Matematika, dan Daftar Hadir
Peserta. Buat kelompok diskusi masing-masing
beranggotakan 3-5 orang. Guru pembina membuat peringkat nilai peserta
berdasarkan hasil dari rekrutmen peserta. Pembagian kelompok didasarkan pada prinsip keadilan dan heterogin, baik
dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin. Misalnya, setiap kelompok
terdapat 2-3 anak pintar yang mempunyai nilai rata-rata di buku Laporan
Pendidikan SMP
85 dan nilai
matematika UN SMP
8,5, serta pembagian
jenis kelamin diusahakan merata. Hal ini dilakukan agar setiap kelompok
diskusi bisa ’hidup’ dan
seimbang. Dalam melaksanakan
pembinaan latihan, setiap pertemuan direncanakan memerlukan waktu 2 jam penuh.
4) Kegiatan awal (menyiapkan peserta untuk dapat
melaksanakan kegiatan inti): 15
menit
Pada kegiatan ini, guru
pembina: (a) mengecek kehadiran peserta didik, (b) menanyakan hasil PR yang
telah dibuat oleh peserta dan membahas soal-soal yang tidak bisa dijawab oleh peserta didik,
(c) memberikan motivasi dan apersepsi,
dan (d) membuat kelompok-kelompok diskusi kecil yang terdiri dari 3-5 orang.
5) Kegiatan inti (95
menit)
Pada
kegiatan inti:
a)
Guru
pembina memberikan LKS olimpiade matematika ke setiap kelompok.
b)
Pada LKS, guru menyajikan permasalahan secara
umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus
dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Guru berkeliling memberikan bimbingan
seperlunya.
c)
Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua
kelompok menyajikan hasil diskusinya.
d) Guru
pembina memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
e)
Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan
yang sedang dibahas.
f)
Menyeleksi
berbagai pendapat sehingga didapat jawaban yang benar.
g)
Secara
individual, peserta didik mengerjakan soal-soal latihan dan hasilnya dikumpulkan
di meja guru.
h)
Bersama-sama
dengan peserta didik menyelesaikan soal-soal latihan.
6) Kegiatan akhir (10 menit)
Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi kelompok
kecil hendaklah dilakuan hal-hal sebagai berikut:
a)
Bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan.
b)
Mereview jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari
seluruh peserta sebagai
umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.
c)
Guru pembina memberikan soal-soal untuk tugas PR.
7)
Pelaksanaan seleksi olimpiade
matematika di tingkat sekolah
Seleksi olimpiade matematika di tingkat sekolah dapat
dilaksanakan pada minggu
pertama atau kedua Desember. Jenis soal pada seleksi
ini berpedoman pada seleksi
olimpiade matematika tingkat kabupaten yang berbentuk soal
uraian, berjumlah 20 buah, dan waktu pengerjaan sebanyak 120 menit. Setelah guru
pembina mengoreksi jawaban anak, kemudian dimasukkan ke daftar nilai.
Nilai akhir yang didapat peserta didik menggunakan
rumus:
|
|
Keterangan:
RH = nilai rata-rata ulangan harian US =
nilai ulangan seleksi tingkat sekolah
8)
Pelaksanaan seleksi olimpiade
matematika di tingkat kabupaten/provinsi/nasional/
internasional
Seleksi olimpiade matematika di tingkat kabupaten biasanya
dilaksanakan pada minggu
pertama April. Soal seleksi dibuat oleh panitia pusat. Jenis soal pada seleksi
ini berbentuk soal uraian, berjumlah 20 buah, dan waktu pengerjaan sebanyak 120
menit. Materi soal jenis pemecahan masalah (problem
solving) yang agak sederhana. Bagi peserta didik yang nilai akhir pada seleksi
olimpiade matematika di
tingkat sekolah termasuk
dalam kelompok 3 besar terbaik, maka berhak untuk mengikuti seleksi olimpiade matematika tingkat kabupaten. Kriteria khusus
peserta OSN bidang Matematika tingkat
kabupaten tahun 2013 adalah: a) siswa SMP/MTs kelas IX, SMA/MA kelas X dan XI,
b) memiliki nilai matematika tidak kurang dari 7,5 (skala 10) atau
75 (skala 100), dan c) belum pernah mengikuti
pembinaan nasional tahap ke-3. (Kemdikbud, 2013:11). Dalam mengikuti seleksi ini, peserta
diharapkan tetap relaks dan dengan hati yang gembira.
Seleksi tingkat provinsi
dilakukan melalui tes tertulis sebanyak 20 soal isian singkat dan 5 soal
uraian. Materi soal berupa masalah-masalah (problem
solving) tingkat
menengah. Soal seleksi tingkat provinsi dibuat oleh
panitia pusat dan dibuat sama untuk seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan untuk
menjaring calon peserta OSN menggunakan sistem passing grade, yaitu juara I
untuk setiap provinsi (berapapun nilainya) akan langsung diundang mengikuti
OSN. Sedangkan peringkat II dan seterusnya untuk masing-masing provinsi,
nilainya akan diranking secara nasional dan akan diambil sekitar 50 siswa
terbaik dari hasil ranking nasional tersebut.
Seleksi OSN bidang studi
matematika SMA tingkat nasional diadakan setiap bulan September. Tes
dilaksanakan dalam dua hari dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
a. Hari I, setiap peserta menyelesaikan 4 soal
uraian dalam waktu 180 menit
b. Hari II, setiap peserta menyelesaikan 4 soal
uraian dalam waktu 180 menit
Materi soal untuk OSN berupa problem solving tingkat lanjut. Nilai maksimal untuk
setiap soal adalah 7 (disesuaikan dengan sistem
penilaian di IMO). (Wiworo, 2009:8-9).
9) Evaluasi
Evaluasi terhadap hasil dan proses penyelenggaraan tahap-tahap
pelaksanaan kegiatan. Dalam evaluasi tersebut dihasilkan kualitas pencapaian
peserta didik dalam kegiatan olimpiade matematika.
(Depdiknas, 2006:49-50), (Taufik,
2002:40-41).
Sebagai pertanggung jawaban terhadap sekolah, guru pembina wajib membuat laporan
kegiatan olimpiade matematika yang isinya meliputi: 1) jenis kegiatan, 2) waktu kegiatan, 3) sasaran kegiatan, 4) tahap- tahap kegiatan, 5)
hasil evaluasi: termasuk di dalamnya evaluasi hasil dan proses kegiatan, 6) faktor
penunjang dan pendukung, dan 7) rekomendasi. Laporan kegiatan ini disampaikan kepada kepala
sekolah dan pemangku kepentingan lainnya (misalnya: pengawas pembina atau ketua
komite sekolah).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Peserta didik agar sukses dalam belajar olimpade
matematika, maka diperlukan kiat-kiat
khusus dalam belajar olimpiade matematika,
yaitu: (1)
memahami konsep, (2) memiliki ketekunan, motivasi yang kuat, dan
hati gembira, (3) memiliki keberanian untuk mencoba, (4) berpikir secara kreatif, (5) aktif bertanya ke guru matematika atau guru pembina dan mau mencari materi
olimpiade dari berbagai sumber belajar, (6)
mempunyai kemampuan untuk transfer
of learning (transfer belajar), (7) dapat berpikir dan bekerja secara
matematis (thinking and working mathematically), dan (8) mau belajar secara sungguh-sunguh dan diiringi dengan do’a yang
ikhlas.
Bagi pembina olimpiade matematika, ada tiga tahap kegiatan yang harus
dibuat, yaitu: (1) membuat rencana kegiatan, (2) melaksanaan kegiatan, dan (3) membuat
laporan kegiatan. Dalam belajar olimpiade matematika, peserta didik akan
menemui soal-soal yang sulit dan tidak rutin, maka guru pembina bisa
menggunakan metode diskusi kelompok kecil agar peserta didik tidak berpikir
sendirian dan dapat bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan
olimpiade matematika. Dengan terjadinya diskusi antara pembina dan peserta
didik akan saling memperkaya ilmu dan akan saling belajar. Penulis berpendapat
bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil maka akan terjadi
peningkatan hasil belajar peserta didik pada olimpiade matematika di SMA.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas,
maka penulis dapat menyarankan hal-hal berikut.
1)
Bagi peserta
didik, diharapkan agar sukses dalam belajar olimpade matematika, maka
diperlukan kiat-kiat khusus dalam
belajar olimpiade matematika di
atas.
2)
Bagi guru
pembina olimpiade matematika, diharapkan melaksanakan tiga tahap
kegiatan, yaitu: (1) membuat rencana kegiatan, (2) melaksanaan kegiatan, dan
(3) membuat laporan kegiatan. Di samping itu, guru pembina diharapkan
dapat menggunakan metode diskusi kelompok kecil sebagai metode alternatif dalam
pembinaan olimpiade matematika di SMA.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.
(2006). Model Pengembangan Diri SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB – SMA/MA/SMALB/SMK. Jakarta: Puskur Balitbang.
. (2008). Strategi
Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta: Dit. Tendik Ditjen PMPTK.
http://imo-official.org./year_country_r.aspx?year=
2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 (online)
Kemdikbud.
(2012). Panduan Umum Olimpiade Sains
Nasional XI SD, SMP, SMA, PKLK Dikdas, dan PKLK
Dikmen, dan Guru. Jakarta: Ditjen Dikmen.
. (2013). Panduan
Pelaksanaan Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/ Kota dan Provinsi tahun
2013. Jakarta: Dit. Pembinaan SMA Ditjen Dikmen.
Kusnandi. (2012). Pembinaan Olimpiade Matematika untuk
Guru SMA/MA di Kabupaten Sungai Liat Provinsi Bangka Belitung (online).
Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional RI No. 39
Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan.
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 74
tahun 2009 tentang Guru.
Sembiring,
Suah. (2002). Olimpiade Matematika untuk
SMU. Bandung: Yrama Widya.
Setya
Budhi, Wono. (2004). Langkah Awal Menuju ke Olimpiade Matematika. Jakarta:
Ricardo.
Susanto, Hery. Sekilas tentang
Olimpiade Matematika. Tersedia dalam http://id.shvoong.
com/exact- sciences/mathematics/2139962-sekilas-info-olimpiade-matematika-internasional/,
diakses 18 April 2013.
Taufik,
Nur Isnaini. 2002. Membina Lomba Cepat Tepat di Sekolah. Majalah Suara Guru, 6
(LII), 40-41.
Wiworo. (2004). Metode Pembinaan untuk Menghadapi
Olimpiade Matematika SMP. Buletin LIMAS.
Yogyakarta: PPPPTK Matematika.
.
(2009). OSN Matematika SMA. Yogyakarta: PPPPTK Matematika Depdiknas.
. (2013). Seri
Menjadi Juara Olimpiade Matematika (I). Tersedia dalam
http://olimpiade.p4tkmatematika.org/?p=43
(online), diakses 27 Februari
2013.
*) Makalah disajikan dalam The First South East Asia Design/Development Research Conference di PPs
UNSRI Palembang, Selasa 23 April 2013.
=============================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar